Nangka Muda Makin Langka, Pihak Keraton Jogja Buka Suara Soal Nasib Gudeg
2 mins read

Nangka Muda Makin Langka, Pihak Keraton Jogja Buka Suara Soal Nasib Gudeg



Jakarta –

Nasib gudeg yang selama ini jadi ikon kuliner khas Jogja terancam sulit didapat lantaran produksi bahan baku utamanya, nangka muda, makin menurun. Begini kata pihak Keraton Jogja.

Penggunaan nangka muda alias gori sebagai komponen utama gudeg erat dengan sejarah agraris Yogyakarta pada zaman dulu. Secara historis pada masa Kerajaan Mataram Islam, pohon nangka disebut tumbuh melimpah di wilayah kota pelajar ini.

Ketika membuka Hutan Mentaok, para pekerja memanfaatkan nangka muda yang melimpah sebagai bahan pangan murah, mengenyangkan, dan dapat diolah dalam porsi besar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dirangkum dari beberapa sumber, tekstur nangka muda yang mirip daging juga jadi alasan bahan nabati ini dijadikan isian gudeg. Sebab dengan teksturnya yang kokoh, nangka muda tidak hancur meski dimasak dalam waktu sangat lama.

Sayangnya, kini nangka muda disebut semakin sulit didapat. Dikutip dari detikJateng (11/10), Jogja sedang mengalami masalah kekurangan stok nangka muda yang merupakan bahan baku utama gudeg.

Adalah Penghageng Kawedanan Hageng Nitya Budaya Keraton Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara yang menyebut Jogja kini kekurangan produksi nangka muda. Hal itu disampaikan dalam acara forum Wonderful Indonesia Gastronomy Talk di Jogja, Jumat (2/10/2026).

“Ada permasalahan yang sedang coba ditangani oleh pemerintah daerah, itu adalah sourcing buah nangka untuk gudeg,” kata GKR Bendara dalam acara tersebut.

Produksi nangka muda atau gori di Jogja dikabarkan kian menurun. Foto: Adji G Rinepta/detikJogja

Penyebabnya adalah terbatasnya jumlah pohon nangka yang ada di daerah itu. Hal itu membuat produsen gudeg harus mengandalkan pasokan nangka muda dari daerah lain.

“Kebanyakan nangkanya itu dari luar Jogja, karena di Jogja itu kekurangan pohon nangka,” jelasnya.

Beberapa produsen gudeg bahkan mulai berkreasi dengan menggunakan bahan lain sebagai bahan baku gudeg. Di Gunungkidul, misalnya, pengusaha kuliner gudeg menggunakan batang pohon pisang sebagai bahan utama.

“Bahkan di Gunungkidul itu, mereka sudah tidak pakai nangka tetapi gedebok pisang, batang pohon pisang, jadi gudeg gedebok pisang,” kata dia.

GKR Bendara juga menyebut Jogja sebenarnya memiliki keragaman kuliner lain yang perlu dijajal oleh wisatawan. Hanya saja kuliner itu masih belum begitu populer.

Pihaknya saat ini terus mendorong agar pengusaha kuliner juga ikut mengangkat dan memperkenalkan keragaman kuliner itu kepada pelanggannya.

“Begitu banyak sebetulnya, ada beberapa makanan yang sudah tidak populer sekarang, padahal itu adalah salah satu dari sejarah kita. Jadi ada nasi golong gilig, sajian itu hanya dikeluarkan pada saat ada acara tertentu. Ini yang juga kita pre-serve menjadi, paling tidak narasinya apa, kita bisa reintroduce kepada industri untuk mulai memperkenalkannya ke restoran,” imbuhnya.

“Ada juga namanya dawet sambal di Kulon Progo, ini sudah menjadi warisan budaya. Ini originalnya yang buat juga masih ada, tetapi tidak ada regenerasinya karena memang tidak banyak yang mengulasnya,” ungkapnya.

Artikel ini sudah tayang di detikjogja dengan judul “Nasib Kota Gudeg Kini Kekurangan Stok Nangka Muda“

(adr/adr)